Membangun Bersama Menikmati Bersama Menuju Tapin Sejahtera

****************************Terwujudnya Kemandirian Pangan dan Petani Sejahtera ******************************************************Terwujudnya Kemandirian Pangan dan Petani Sejahtera********************************************

04/08/16

BKP3 Tapin Gelar survey PPH 2016



Guna mengetahui pola konsumsi masyarakat, pemerintah menggelar Survey Pola Pangan Harapan 2016, kegiatan nasional yang dilakukan serentak tersebut, mulai di gerakkan di kabupaten tapin, bulan juli 2016.
Kepala BKP3 Kabupaten Tapin, Ir. H. Yusriansyah, MP, Mengatakan, bahwa Survey PPH yang diadakan setiap tahunnya, bertujuan untuk menghasilkan suatu komposisi standar pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi penduduk sekaligus juga mempertimbangkan keseimbangan gizi, yang didukung oleh cita rasa, daya cerna, daya terima masyarakat, kualitas dan kemampuan daya beli.
Oleh karenanya diharapkan, kegiatan PPH kali ini berjalan dengan baik dan lancar sehingga mampu menjadi instrument, dalam menilai ketersediaan dan konsumsi pangan, berupa jumlah dan komposisi pangan menurut jenis pangan serta basis untuk perhitungan skor PPH, yang digunakan sebagai indikator mutu gizi pangan dan keragaman konsumsi pangan baik pada tingkat ketersediaan maupun tingkat konsumsi


PPH sendiri merupakan suatu cara menilai kualitas susunan hidangan dengan melihat keseimbangan antar kelompok pangan dalam hidanga

n dimana keseimbangan ini dilihat dari kontribusi tiap kelompok pangan dalam menghasilkan energi. Demikian dijelaskan H. Saidi, S.Pi, kepala bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan.

Lebih lanjut, beliau mengungkapkan bahwa  survey yang mulai digelar pada Juli 2016 ini dilakukan di 18 desa dengan kuisioner kurang lebih 127 Keluarga, Pengisian data survey nantinya akan di input dalam aplikasi khusus PPH, dan hasilnya akan terlihat pencapaian Pola Pangan Harapan  serta tingkat konsumsi di Kabupaten tapin, sehingga dapat menjadi acuan pemerintah daerah dalam mengambil keputusan terkait perencanaan konsumsi, kebutuhan dan penyediaan pangan wilayah.
Sementara itu, hasil data survey pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan pola konsumsi yang semakin baik dan cukup meningkat, pada 2013 sebesar 81,9% meningkat di tahun 2014 sebesar 82,5 % dan pada 2015 meningkat kembali menjadi 83,7 %, peningkatan tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya pemerintah daerah dalam menggencarkan penerapan pola pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman, salah satunya melalui kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) melalui konsep KRPL. Dimana salah satu kegiatannya adalah pemberdayaan kelompok wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekaranga.

Pada tahun 2015, total kalori sebesar 1.814, masih dibawah angka kecukupan energi yaitu sebesar 2000,0 Kkal/Kap/Hari, tentunya Pemerintah Daerah masih perlu memberikan lebih banyak motivasi kepada masyarakat sehingga kesediaan masyarakat daerah mengkonsumsi pangan secara beragam, berimbang dan bergizi serta aman semakin meningkat.

25/07/16

Warga Sambut Antusias Survey Pola Pangan Harapan (PPH) 2016





Teriknya matahari maupun derasnya guyuran  hujan, tidak membuat patah semangat Petugas Survey Pola Pangan Harapan (PPH) dari BKP3 tapin untuk menyambangi warga di beberapa desa, demi melaksanakan program tahunan, yakni survey PPH. Tidak kalah semangatnya, warga yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, peserta survey PPH, cukup antusias menyambut kegiatan ini, mereka bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan penjelasan para petugas serta mengisi kuisioner PPH yang disediakan.
Seperti dijelaskan Bardiah, SP, Petugas Enumerator PPH, bahwa sangat penting mengkonsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman, yang terdiri dari beranekaragam makanan dengan jumlah dan proporsi yang sesuai, agar dapat memenuhi kebutuhan gizi, baik untuk pemeliharaan, perbaikan sel-sel tubuh serta proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh, 

Sementara itu, sebagian peserta pph, mengaku cukup memahami  penjelasan dari petugas pph, meskipun masih perlu penjelasan secara bertahap untuk mengisi kuesioner dengan baik dan benar. 

Dimana dalam kuisioner tersebut terdapat beberapa kolom yang harus diisi mengenai menu makan pagi, siang dan malam, termasuk makanan tambahan seperti kue dan buah, dimana menu-menu tersebut harus dijabarkan secara detail mulai dari bahan-bahannya, porsinya menurut ukuran rumah tangga dan ukuran berdasarkan gramnya.
Dalam proses pengisian kuisioner tersebut, tidak sedikit peserta yang aktif bertanya mengenai pengisian kuisioner dan beberapa diantaranya ada yang nampak kesulitan dalam penulisan kuisioner.
 “Rata-rata ibu-ibu peserta survey pph ini paham maksud dan penjelasan dari petugas PPH, meskipun ada sebagian yang masih kesulitan mengisi kuesionernya, karenanya petugas pph maupun penyuluh desa harus memberikan arahan secara perlahan sampai mereka paham.” Demikian ungkap Erni Masfufah, SP, petugas enumerator PPH.

Dari gambaran sementara, pola konsumsi  dibeberapa desa  memiliki perbedaan yang cukup signifikan, hal ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan ketersediaan pangan setempat, seperti misalnya didesa hatungun, yang gemar mengkonsumsi sayuran seperti lalapan daun singkong, daun papaya, terong, timun dengan lauk tempe, tahu, dan ayam serta tidak ketinggalan buah-buahan seperti mangga dan pisang. Sedangkan untuk desa margasari hulu, kebanyakan mengkonsumsi ikan air tawar seperti gabus atau haruan, ikan papuyu,dan  udang pada musimnya.